Mengasah Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus, UBM Bersama Special Harmony Hadirkan Kelas Fotografi

Jakarta, 10 April 2025 — Dalam semangat memperkuat pendidikan inklusif yang berbasis empati dan keterampilan hidup, Special Harmony School melalui Yayasan Lentera Cita Karya bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia (UBM) menyelenggarakan Pelatihan Fotografi Dasar bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Kegiatan ini berlangsung di Lab Radio dan Broadcasting, Lantai 5 Kampus UBM Ancol.

Melalui pelatihan ini, fotografi dihadirkan bukan sekadar sebagai seni visual, tetapi sebagai medium komunikasi dan ekspresi diri. Anak-anak kami dilibatkan dalam proses belajar yang menyenangkan, terbuka, dan memberdayakan—mulai dari pengenalan teknik dasar pengambilan gambar hingga praktik langsung memotret. Yang membuat kegiatan ini lebih istimewa adalah tema “Kartini” yang diangkat dalam sesi praktik, di mana siswa-siswi memotret teman-teman mereka sendiri yang mengenakan kebaya sebagai simbol semangat kesetaraan pendidikan. Tema ini memiliki nilai simbolik yang kuat bagi kami, sejalan dengan semangat pendidikan inklusif yang kami perjuangkan di Special Harmony School, menjadi pengingat bahwa perjuangan akan akses pendidikan yang setara masih sangat relevan, terutama bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Kami sangat mengapresiasi peran aktif para dosen serta keterlibatan mahasiswa sebagai mentor yang dengan sabar dan penuh empati mendampingi anak-anak kami. Suasana hangat yang terbangun selama pelatihan membuktikan bahwa komunikasi, kreativitas, dan empati bisa bersatu dalam ruang belajar yang setara.

Pelatihan ini tidak hanya memberi bekal teknis, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri dan keberanian anak-anak untuk tampil dan berinteraksi dengan dunia di luar lingkungan sekolah. Lebih dari itu, hasil karya mereka akan ditampilkan dalam Seminar UBM: ACT (Acceptance, Caring, Tolerance)—sebuah ruang apresiasi yang menunjukkan bahwa setiap anak, termasuk ABK, memiliki potensi untuk bersuara melalui lensa kamera.

“Melatih life skill seperti fotografi bagi anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya soal membekali mereka dengan keterampilan teknis, tetapi tentang memberikan mereka ruang untuk merasa mampu, diterima, dan dihargai. Di lingkungan yang inklusif dan suportif, mereka tidak hanya belajar mengambil gambar, tapi juga belajar mengenal diri, membangun kepercayaan diri, dan berinteraksi dengan dunia luar” ujar Yesica Yuliani Clara, selaku Ketua Yayasan Lentera Cita Karya / Founder Special Harmony School.

“Kami percaya bahwa ketika diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat, setiap anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bermakna bagi masyarakat.” Lanjutnya. 

Special Harmony School berharap sinergi ini terus berlanjut dalam bentuk program pelatihan, advokasi, maupun kolaborasi edukatif lainnya yang semakin memperkuat posisi anak berkebutuhan khusus sebagai bagian utuh dari masyarakat.

Scroll to Top